Pulau berita-Sore dan hujan adalah kombinasi yang lengkap untuk menerima tamu berupa kenangan. Apalagi dengan pemandangan puluhan pot tanaman mini yang berjajar di dinding teras mini, dan radio di dalam rumah yang menyandungkan lagu-lagu indie. Kenangan itu hadir tanpa permisi.

Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling meraba di dalam gelap.”

Aku sama saja sepertimu, manusia biasa yang sering melakukan kesalahan. Salah satunya adalah membiarkan diriku terjebak dalam hubungan yang toxic . Membiarkan seseorang melanggar teritori dan hal-hal yang semestinya kumiliki sendiri. Mengingatnya saat ini bukannya aku kangen, aku hanya sedang mengagumi diri sendiri. Karena ternyata aku bisa sejauh ini tanpanya yang dulu begitu kucintai. 7meter

Harus kuakui, dia adalah sosok yang nyaris sempurna. Bersamanya, aku merasa punya masa depan yang luar biasa indahnya

Apakah kamu berpikir bahwa pasangan yang toxic itu menyebalkan dan jahat? Itu kurang tepat. Sebab dia yang bersamaku dulu, pernah kuanggap sebagai sosok yang hampir sempurna. Kombinasi antara penampilan yang rupawan, tutur kata lembut, sikap romantis, dan aksi protektifnya membuatku merasa spesial.

Bersamanya, aku merasa seperti satu-satunya perempuan di muka bumi ini. Ah, ya, kami juga punya rencana masa depan yang pasti. Tunggu sampai tabungan cukup, lalu kami akan melenggang ke pelaminan. Aku tak pernah meragukan kesungguhannya sama sekali. Sebab aku tahu dia memang tak pernah ingkar janji.

 

Cemburunya sering berlebihan dan tanpa alasan. Tapi aku menganggapnya sebagai bentuk rasa sayang

Dicemburui itu menyenangkan, bukan? Melihat pasanganmu uring-uringan hanya karena merasa terancam dengan kehadiran orang lain itu lucu ‘kan? Ya, dulu aku juga berpikir begitu. Sikap cemburunya memang sering berlebihan. Bahkan seringkali dia melarangku kumpul-kumpul dengan teman dengan berbagai alasan.

Waktu itu aku tersanjung, karena kurasa sedemikian besar keinginannya untuk bersamaku. Dibanding membiarkanku pulang nebeng teman atau naik kendaraan umum, dia memilih untuk mengantar-jemputku setiap hari. Sikap yang manis ini dulu membuatku melambung tinggi.

Tangan dan kata-katanya memang sering kasar. Namun, bila dia sudah menyesal, bukankah aku harusnya memaafkan

Memang ada satu masalah yang sering terjadi di hari-hari bahagia kami itu. Emosinya seringkali tak terkontrol, terutama saat dia merasa marah, cemburu, ataupun insecure. Tak hanya kata-kata kasarnya yang menusuk hati, terkadang perdebatan kami sering kali diakhiri dengan tamparan di pipiku.

Hanya saja, dua detik setelah melakukan itu, dia tersadar dan segera menyesali perbuatannya. Dengan tangis sesal, dia memohon maafku, dan terbata-bata menjelaskan mengapa dia melakukan itu. Hal-hal seperti ini membuat hatiku tersentuh, dan berpikir bahwa “Ah, aku juga yang salah. Nggak heran kalau dia begini.”

4. Semua yang manis-manis itu membutakan mataku cukup lama. Hingga akhirnya aku mengerti bahwa ini tidak baik-baik saja

Meski dia sering kasar, bukankah dia sudah menyesal dan minta maaf? Meski dia sering cemburu tanpa dasar, bukankah dia sebenarnya takut kehilangan? Meski dia sering melarangku jalan dengan teman-teman, bukankah itu karena dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamaku? Hal-hal semacam itu membuatku merasa baik-baik saja.

Namun, dengan lebam-lebam yang semakin sering hadir di tubuhku, dengan tangis diam-diam yang sering kulakukan, dan rasa lelah yang semakin lama semakin menumpuk, aku mulai berpikit. Apa iya aku–atau kami–baik-baik saja? Semakin lama kupikir semakin aku paham, bahwa aku memang tidak baik-baik saja.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here