bola88
bola88

Pulauberita.com – Medan Tindakan sembrono dua remaja di dua daerah berbeda memicu kegembiraan. Keduanya bertindak konyol untuk bunuh diri. Modusnya sama, melompat dari ketinggian.

Remaja di Cirebon, Jawa Barat akan segera melompat dari jembatan. Remaja di Kendari, Sulawesi Tenggara bahkan ingin meloncat dari menara setinggi 42 meter.

Bola88 Selain mode, kesamaan lainnya terletak pada pemicunya. Dua insiden tersebut dipicu oleh masalah yang pada umumnya dianggap sepele. Remaja di Cirebon berpacaran terlarang, remaja di kendari karena dilarang bekerja.

Tindakan sembrono dilakukan oleh AP (15), seorang siswa sebuah sekolah negeri di Cirebon pada hari Jumat, 12 Januari 2018. AP sembrono melompat dari atas jembatan tol Sijopak, Desa Sekat, Kecamatan Talun, Cirebon. Kabupaten.

Pegangannya saat diketahui sekolah tersebut mengendarai dengan seorang pria berinisial DM (18). Pria itu juga siswa kelas 2 di sekolah yang sama dengan AP.

“Melihat korban boncengan, segera ditegur guru melarang pacaran,” kata Kapolres AKBP Cirebon Risto Samodra.

Setelah ditegur, katanya, AP pun langsung tidak bersekolah. Teman-teman AP berinisiatif untuk menemuinya di kediaman AP.

Di depan AP, teman-temannya juga memberi tahu ibunya. Teman-temannya juga sempat memberitahukan kabar tersebut kepada ibu korban bahwa AP mengancam pengusiran.

Sang ibu sempat memarahi korban karena memang ulahnya. Tak lama setelah dimarahi, korban langsung berlari menuju jembatan tol.

“Korban lari ke jembatan lalu langsung dikejar,” katanya.

Upaya percobaan bunuh diri korban diketahui warga lain dan adiknya. AP berulang kali diyakinkan untuk tidak melompat.

Namun, siswa SMP itu seperti kehilangan semangat untuk putus asa untuk mendaki dari tepi pagar dan ke tengah jalan di atas jembatan tol. Korban juga terus membujuk orang yang melihat tidak putus asa.

Saudara yang mengetahui posisi korban langsung berhadapan dengan korban dari bawah. Bersama warga lainnya, korban sembrono melonjak dan kemudian langsung ditangkap oleh orang-orang di bawahnya.

“Kakak korban membujuknya dan mengangkat tangannya dari bawah sampai korban jatuh,” katanya.

Setelah berhasil ditangkap, korban langsung dibawa ke RSUD Gunung Jati Cirebon. Dari tindakan tersebut, korban mengalami luka robek di dahi, bibir, memar di leher dan punggung.

“Di dahi enam jahitan, di bibir empat jahitan, selamat,” kata Risto.

Hampir Melompat dari Tower 42 Meter

Sementara di Kendari, seorang siswa SMA (SMA) Kota Kendari, putus asa untuk menyelesaikan hidupnya dari salah satu menara telekomunikasi, Kamis 11 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 WIB.

Mahasiswa AT inisial (17) memanjat tiang menara setinggi 42 meter di Jalan Rambutan, Desa Wawowanggu, Kecamatan Kadia Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Alasan ingin terjun bebas dari puncak menara karena masalah pribadi dengan ayah tirinya, Muhammad Amin.

Menurut ibu kandung AT, Marlina Umar, AT dan ayah tirinya bertengkar pada hari Rabu, 10 Januari 2018 malam, di rumah mereka di Lorong Asera, Jalan PLN, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.

Menurut Marlina, pertengkaran tersebut terjadi karena ayah tirinya tidak menyukai AT side job sebagai salah satu pengemudi di tempat malam di Kota Kendari. Pasalnya, tempat ini tidak cocok untuk AT yang masih berpendidikan SMA.

“Dia dipukul oleh ayahnya karena dilarang bekerja, mungkin dia tidak menerima dipukuli,” kata Marlina.

Aksi AT menggagalkan tim Search and Rescue (SAR) Kendari. Anjas yang berada di puncak menara berhasil membujuk salah satu anggota SAR. Tim SAR Kendari hampir tidak bisa melakukan penyelamatan yang sempurna. Pasalnya, siswa SMK 5 Nusantara Kendari itu pun bersiap untuk terjun.

“Matanya terbungkus kain, lompat saja dan selesaikan. Lucu, kami berhasil memanggil dan membujuknya,” kata Dedi, anggota SAR yang berhasil menyelamatkan AT.

Dedi mengatakan setelah berhasil mendekati AT, pemuda tersebut menangis di puncak menara dan meminta ayahnya untuk datang. Namun, SAR tidak peduli, lalu segera merangkul dan mengamankan AT dengan cepat.

“Saya langsung mengikatnya dengan tali pengaman, karena ngeri atmosfer di atas, menara besi rapuh dan sedikit terbuang dari kita,” kata Dedi.

Selain Dedi, tiga anggota SAR lainnya sudah menunggu di bawah menara. Ketiganya yakni Asep Poage, Heri Kuswanto, dan Haeruddin. Upaya keempat anggota SAR Kendari ini untuk menyelamatkan AT sudah mengalami kendala.

Untuk mendaki menara, dibutuhkan sekitar satu jam karena kondisi besi menara yang sudah licin dan rapuh. Apalagi saat membawa AT turun dari atas menara.

Selama bertahun-tahun menangani sejumlah bencana alam dan penyelamatan orang-orang di Sulawesi Tenggara, tim SAR Kendari yang hanya terdiri dari delapan orang, pertama kali menyelamatkan orang yang akan bunuh diri dari menara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here